Kue Pinyaram, Jajanan Khas Enak dari Arosuka yang Bikin Kangen

Pagi itu di Pasar Raya Arosuka, saya masih ingat sekali aroma gula merah yang hangat bercampur asap tipis dari tungku tanah liat. Seorang nenek dengan telaten membalik-balik adonan berwarna cokelat keemasan di atas wajan datar. Itulah pertama kalinya saya berkenalan dengan pinyaram, jajanan khas enak yang tidak pernah lekang oleh waktu. Buat saya yang baru pindah ke Arosuka tiga tahun lalu, momen itu seperti menemukan harta karun kuliner warisan Minangkabau. Sejak saat itu, pinyaram selalu jadi teman setia sore hari, ditemani segelas teh hangat.
Cerita dan Resep Kue Pinyaram Sederhana
Pinyaram bukan sekadar kue. Ia adalah cerita gotong royong nenek moyang. Dulu, setiap kali ada hajatan atau musim panen, para ibu di kampung akan bergotong royong membuat pinyaram dalam jumlah besar. Adonannya cuma tepung beras, santan kental, gula merah, dan sedikit garam — sederhana namun kaya rasa. Keunikan pinyaram terletak pada proses pemanggangan yang butuh kesabaran ekstra. Api harus kecil agar bagian dalam matang merata tanpa gosong di luar.
Saya pernah belajar langsung dari pemilik warung langganan, Mak Ina. Katanya, resep ini sudah turun-temurun dari neneknya. “Kuncinya di adukan,” ujarnya sambil tersenyum. “Kalau malas ngaduk, teksturnya jadi keras.” Bangeet ternyata mempengaruhi hasil akhir.
Untuk membuat pinyaram sendiri di rumah, kita tidak perlu alat khusus. Cukup wajan anti lengket dan spatula kayu. Campurkan 250 gram tepung beras dengan 200 ml santan kental yang sudah direbus bersama 150 gram gula merah sisir dan sejumput garam. Aduk rata hingga tidak bergerindil. Panaskan wajan dengan api kecil, olesi sedikit minyak. Tuang satu sendok sayur adonan, ratakan membentuk lingkaran tipis. Biarkan hingga bagian bawah kecokelatan, lalu balik. Proses ini cuma butuh waktu sekitar 5–7 menit per kue. Hasilnya, pinyaram yang legit, manis gurih dengan tekstur kenyal di dalam dan renyah di luar. Saya sering membuatnya akhir pekan dan menikmati bersama keluarga.
Keistimewaan lain dari pinyaram adalah fleksibilitasnya. Bisa dinikmati begitu saja, atau ditambahkan taburan kelapa parut sangrai. Beberapa varian modern mulai menggunakan gula aren untuk rasa yang lebih kompleks. Namun, bagi saya, pinyaram versi tradisional tetap juara. Rasanya membawa kembali ingatan akan pasar pagi, deretan warung kayu, dan senyum Mak Ina yang ramah. Ketika kami mengadakan acara arisan di kompleks perumahan, pinyaram selalu habis paling awal. Para tetangga yang bukan asli Sumatera pun langsung jatuh cinta. Gak heran mereka minta resep.
Kue pinyaram adalah bukti bahwa jajanan khas enak tidak harus rumit. Ia mengajarkan bahwa kesederhanaan bahan bisa melahirkan rasa yang luar biasa. Bagi Anda yang ingin merasakan nostalgia kampung halaman atau sekadar ingin camilan baru, cobalah membuat pinyaram. Dijamin, satu gigitan akan membuat Anda ketagihan.
Setiap kali saya menggigit pinyaram hangat, saya tidak hanya menikmati rasa manis gula merah, tetapi juga semangat kebersamaan yang diwariskan para pendahulu. Jajanan khas ini mengikat saya dengan Arosuka lebih dalam dari sekadar tempat tinggal. Ia menjadi alasan saya tersenyum setiap sore, mengingat bahwa di balik piring kue, selalu ada cerita yang patut diceritakan kembali.

Bagi yang penasaran dengan sejarah lebih panjang tentang pinyaram, bisa membaca artikel Wikipedia mengenai kue tradisional Minangkabau. Selamat mencoba dan semoga kenangan manis selalu menyertai.